Jumat, 13 Agustus 2010

11 Agustus 2010 (Ramadhan hari ke 1)

Sahur pertama

Pukul 03.55 aku dibangunkan oleh Ibu Imas (beliau adalah ibu dari Bpk. Aziz) untuk makan sahur. Agak kelabakan juga sebab sudah jam 4 pagi. Ustadz Rahmat menegurku,"Kenapa buru-buru, tadz?" Saya jawab, "Kan sudah jam 4 pagi." Sambil tersenyum Ustadz Rahmat berkata,"Subuhnya jam 5 lebih 5 menit, Pak." Saya baru sadar, ini kan Lampung bukan Ngawi yang jadwalnya ternyata selisih setengah jam dengan jadwal daerah Ngawi. Yah.....adaptasi yang lamban.

Sahur pertama ini, aku bersama Bapak Marjo (menantu dari Ibu Imas yang asli Muntilan - magelang)

Setelah makan sahur persiapan sholat subuh. Kembali Bpk. Idi selaku imam masjid, mempersilahkan aku untuk menjadi imam sholat subuh sekalian kulsub-nya. Kali ini tidak aku tolak, karena saya yakin subuhnya orang Lampung dengan subuhnya orang Ngawi pasti sama.

Bakda subuh, kusampaikan materi "Misteri adzab pagi hari". Alhamdulillah mendapatkan respon yang baik dari jama'ah. Karena setelah sholat subuh, para jama'ah masih mendiskusikan materi yang aku sampaikan.

Siang hari, kucoba untuk sms ke panitia PRODIN di pusat untuk melaporkan kegiatanku disini. Ternyata di daerah ini sinyal sangat sulit sekali. Tiap sms selalu gagal. Kami tanya pada penduduk setempat mengenai sinyal HP, mereka jawab untuk ngebel ya harus naik atap masjid dulu biar bisa. Atau berjalan ke arah Bandar Jati (sekitar 2 km) supaya sinyal kuat. Capek....deh....




Alhamdulillah, Alloh berkehendak lain. Ternyata disini sinyal CERIA agak stabil, walaupun cuma satu-dua strip. Dan alhamdulillah, aku bawa modem CERIA pinjaman temanku. Hingga aku putuskan untuk membuat laporan lewat online internet. Maka jadilah blog asal-asalan ini. Semoga panitia PRODIN di pusat bisa memakluminya.





Siang hari, aku masih beres-beres kamar bersama Ust. Rahmat sampai waktu asar. Pasang kipas, pasang lampu, pasang gembok pintu dan lain sebagainya.

Sampai kemudian Ust. Ikrom menghubungi aku, agar aku mengisi halaqoh di daerah Gunung Batin. Saya tanya,"Ngisi jam berapa?" "Jam 5 sore, sambil buka bersama."jawab beliau.

Hingga akhirnya kutunggu beliau habis asar. Kemudian beliau menghubungi, kalau beliau tidak bisa ngantar karena motornya rusak. Dan ada ikhwan lain yang akan mengantar aku. Namanya adalah akhi Romdhona, seorang asli Lampung yang sudah lama ikut taklim.

Setelah kenalan dan siap-siap, akhi Romdhona berkata,"Bawaannya kok sedikit, Tadz?" Saya jawab,"Ya, cuma ngisi satu jam saja koq." Akhi Romdhona menyahut,"Tidak Tadz, antum pindah sekarang juga di tempat kami (di Gunung Batin)." "Saya kok belum diberitahu," aku menyahut. Ternyata ikhwan di daerah masih ada miss understanding tentang posisi dimana aku tugas. Menurut surat tugas dari Yayasan Al Falah, aku ditugaskan di Kabupaten Lampung Tengah. Dan di Kabupaten Lampung Tengah ada banyak titik-titik dakwah, dan mereka merasa berhak atas penugasanku. Maka aku putuskan untuk tetap taklim di Gunung Batin dan setelah selesai kami dikembalikan di masjid Al Falah ini, sambil menunggu musyawarah ikhwan di Lampung Selatan mengenai tempat penugasan.

Kamipun berangkat. Ternyata akhi Romdhona adalah jago kebut. Di jalan yang sempit dan berlobang di jalur timur Sumatra ini, motor meliuk-liuk dengan gesitnya di sela-sela truk-truk besar dan kendaraan lainnya. Ternyata jarak antara Gunung Batin dan Tanjung Anom (tempatku tinggal sekarang) sekitar 25 km.

Sesampainya di Gunung Batin, saya diturunkan di sebuah masjid. Namanya ASH SHOLIHIN. Disitu sudah menunggu beberapa ikhwan. Dan aku disambut hangat oleh Ust. Endang.









Setelah terkumpul, maka halaqoh-pun dimulai. Setelah perkenalan sebentar, kusampaikan materi "Ruqyah Syar'iyyah."










Menjelang maghrib taklim-pun selesai dan kami berbuka bersama. Perlu diketahui bahwa penduduk Gunung Batin berbeda dengan penduduk Tanjung Anom tempat aku tinggal sekarang. Jika penduduk Tanjung Anom mayoritas adalah transmigran dari pulau Jawa dan keturunannya, sedangkan penduduk Gunung Batin mayoritas adalah warga suku asli Lampung. Suku Lampung Baung adalah nama dari suku yang mendiami daerah Gunung Batin.

Selesai berbuka, kami ketemu dengan pihak takmir masjid Ash Sholihin. Mereka meminta aku untuk mengisi kultum di masjid itu. Dan ternyata.....eh ternyata.... sebelum sholat dimulai, masjid kedatangan tamu yaitu Bapak Camat Terusan Nunyai yang meminta untuk menjadi khotib malam itu. Yah....akhirnya aku lengser.

Selesai tarawih, kemudian pihak takmir meminta ma'af  kepadaku dan meminta agar aku mau menginap di Gunung Batin dan mengisi kuliah subuh besok harinya. Sebenarnya agak berat juga...sih, sebab aku ijin pada tuan rumah hanya sampai waktu isak. Kemudian aku hubungi Ust. Ikrom untuk menyampaikan ijin pada keluarga Bpk. Abdul Aziz kalau aku pulang besok pagi.

Karena aku menginap malam itu di Gunung Batin, kupakai kesempatan silaturrohmi pada dua orang tokoh Muhammadiyah asli Lampung. Beliau adalah Bpk. Haji Ci A Ni dan Bpk. Syamsi.




Bpk. Haji Ci A Ni, beliau adalah tokoh paling berpengaruh di daerah sekitar masjid Ash Sholihin - Gunung Batin. Beliau adalah imam masjid Ash Sholihin. Masjid tersebut berdiri di atas tanah yang diwakafkan beliau beserta pekarangannya yang luar biasa luas.







Bpk. Syamsi, beliau juga tokoh Muhammadiyah Gunung Batin. Beliau merupakan partner dari Bpk. H. Ci A Ni dalam mengembangkan dakwah di sekitar Masjid Ash Sholihin






Setelah bersilaturrohmi dengan beliau berdua, akupun melanjutkan silaturrohmi ke rumah Ketua Remaja Masjid Ash Sholihin. Yaitu saudara Birwan, yang merupakan juga suku asli Lampung Baung. Karena sudah larut, akupun ditawari menginap di rumah beliau.








Di rumah ini, aku menginap di Gunung Batin.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar