Sweet memories ten years ago........Jakarta, I'm back.
Jakarta oh Jakarta......tetap tidak berubah setelah 10 tahun.


Setelah menempuh perjalanan yang sekian lama. Akhirnya kami diistirahatkan oleh bapak sopir. Tepatnya di pool Tangerang. Kenangan 10 tahun lalu kembali menguat. Disekitar sinilah saya dulu tinggal. Jatake, Serpong, Karawaci hingga Serang, nama-nama yang tidak asing lagi di telingaku.
Bapak sopir yang luar biasa. Nyopir dari jam 14.30 hingga jam 10.00 esok harinya tanpa istirahat dan tanpa diganti. "Resepnya apa pak sopir bisa tahan seperti itu."Bus-pun juga perlu istirahat.
Pagi hari yang cerah di Tangerang. Jam 10.15 waktu Tangerang, setelah menikmati jatah makan dari agen bus, kamipun melanjutkan perjalanan kami ke Pelabuhan Merak, Serang Banten. Ayo......ke laut...!!!


Bus kami naik kapal ferry penyeberangan Merak - Bakauheni sekitar jam 12.00 waktu Selat Sunda. Dan kamipun jalan-jalan di perahu raksasa berbahan baja tersebut.
Orang hulu nampang di puncak hilir. Mumpung ketemu laut......mantab kang...!!!!!!!

Pencari rizki dari lemparan uang penumpang kapal
Naik kapal kemudian jalan-jalan keliling kapal. Kamipun tebak-tebakan, berapa liter air di Selat Sunda..? Keliling kapal kemudian..........capek deeeeeh.....
Kapal berjalan lamban (menurut kami), apalagi kami merasa kapal berputar-putar dulu tidak langsung menuju sasaran. Ketika perasaan sudah mulai tidak sabar untuk menginjak kaki di Pulau Sumatra, kapal malah berjalan lamban Ada apa ini...? Semakin dongkol lagi, ketika kapal kami disalip oleh speed boat.

Di lautpun juga ada kebut-kebutan, mana ni polantas laut..?
Sampailah di bumi Sumatra
Setelah perjalanan kapal memakan waktu dua jam lebih, alhamdulillah sampai juga kami di Pulau Sumatra. Pelabuhan Bakauheni yang tidak kalah sibuk dengan Pelabuhan Merak didalam beraktivitas. Akhirnya kami tahu, kenapa kapal yang kami tumpangi tadi berputar-putar dan nyaris berhenti, ternyata di dermaga Bakauheni masih ada kapal yang belum berangkat dan dermaga yang lain penuh. Sehingga kapal kamipun terombang-ambing di Selat Sunda.
"Selamat datang di Lampung", mungkin itu sapaan Pelabuhan Bakauheni kepada kami.
Kamipun melanjutkan perjalanan dengan bus. Saat itu jam menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat. Kesan pertama, kami merasa tanah begitu subur. Pohon pisang, pohon kelapa yang sangat luar biasa jumlahnya.

Setelah berjalan kurang lebih satu jam, kamipun istirahat di Rumah Makan "Siang Malam" di Kalianda. "Semua boleh makan tapi bayar sendiri," kata Om Kernet. Yah, jatah dari bus sudah habis. Kamipun bersepakat untuk turun dan makan. Setelah duduk dimeja makan, kamipun disuguhi beraneka ragam lauk khas Padang dengan sebakul kecil nasi. Kami hitung lebih dari 10 mangkuk lauk dan sayur yang disuguhkan kepada kami, padahal kami belum pesan. Apa gini cara penyajian rumah makan di Lampung ? Ada hal yang lucu, setelah mencicipi beberapa mangkuk lauk, kami saling bertanya satu sama lain. "Nanti bayarnya gimana, semua harus dibayar atau gimana....? Akhirnya Ust. Yatno Sragen memberanikan diri untuk tanya pada kasir. Kasir menjawab dengan senyum,"Yang dibayar yang dicicipi, Pak." MasyaAlloh, padahal hampir semua sudah kami cicipi, walau sedikit-sedikit. Akhirnya kamipun patungan untuk 10 mangkuk lebih lauk dan sayur yang kita cicipi. Rp. 133.000,00 untuk sekali makan.Arloji menunjukkan jam 16.30 saat kami melanjutkan perjalanan ke Kalibalok (sebuah tempat yang kami tidak tahu bagaimana bentuknya), dimana tempat itu dijadikan tempat berhenti kami yang diinformasikan oleh Contact Person dari ikhwan Lampung. Terjadi kemacetan yang luarbiasa dari daerah Panjang menuju Kalibalok. Sebenarnya jarak dari Panjang - Kalibalok kurang dari 10 km, tapi karena macet perjalanan menjadi sangat lama. Kami sampai ke Kalibalok sekitar pukul 18.30 waktu setempat.
Bertemu koordinator setempat
Alhamdulillah, setelah melalui perjalanan yang melelahkan (apalagi tas bawaan terasa begitu berat), sekitar 28 jam perjalanan, kami sampai pada Kalibalok dan ketemu dengan tim penjemput yang berjumlah 5 orang.

Setelah bersepeda motor sebentar di pinggir kota Bandar Lampung, sampailah kami ke Sekretariat Yayasan Al Falah Bandar Lampung. Badan yang dingin disambut dengan hangat, beserta senyum yang hangat dan tentu kopi dan makanan yang hangat. Lebih dari sepuluh ikhwan yang menyambut kami di tempat tersebut.
Bakda isak kami rapat sebentar dengan Bpk. Drs. Abdur Rozak, selaku ketua Yayasan Al Falah Bandar Lampung. Beliau memberi kami masing-masing satu amplop (saya kira duit......). Setelah itu Beliau berkata, "Tidak boleh memilih." Ternyata amplop tadi berisi surat tugas kami ke tempat-tempat tugas kami. Lha dalah....ternyata, Bandar Lampung hanya persinggahan kami sementara. Kami masih melanjutkan perjalanan kami paling tidak antara 80 - 200 km lagi.Ust. Suyatno yang ditugaskan di Bandar lampung, malam itu langsung diberangkatkan karena dekat. Sementara kami bertiga yaitu, aku sendiri, ust. Roni dan Ust. Guntoro masih nginep satu malam di Yayasan Al Falah, karena pertimbangan jarak dan suasana jalan hutan yang tidak kondusif.
















